Koperasi untuk Semua: KOMIDA Membuka Pintu Inklusi Keuangan bagi Perempuan dan Penyandang Disabilitas
- June 11, 2026
- Posted by: komida
- Categories: Artikel, Berita dan Artikel, Inklusi
JAKARTA (10/6),– Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA) kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas akses keuangan bagi perempuan prasejahtera, termasuk mereka yang hidup dengan disabilitas. Melalui peluncuran panduan video etiket disabilitas dan perangkat Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (JEDSI), KOMIDA memperkuat visinya bahwa inklusi bukanlah sekadar aksi sosial, melainkan sebuah bentuk keadilan,.

Dalam webinar bertajuk “Advancing Disability‑Inclusive & Gender‑Responsive Finance”, yang difasilitasi MSC, KOMIDA bersama para mitra strategis seperti Opportunity International Australia (OIA) dan MicroSave Consulting (MSC) menyoroti kesenjangan akses keuangan yang masih lebar di Indonesia. Data menunjukkan bahwa hanya 24% penyandang disabilitas yang memiliki rekening bank, dan hanya 1% yang memiliki akses ke layanan keuangan digital.

Dukungan Penuh Pemerintah: Sinergi untuk Inklusi
Langkah progresif KOMIDA ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia. Menteri Koperasi RI, Bapak Ferry Juliantono, dalam sambutan resminya yang disampaikan melalui pesan video, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem keuangan yang responsif gender dan inklusif bagi disabilitas.
Pemerintah memandang inisiatif ini sebagai tolok ukur penting bagi gerakan koperasi di tanah air. Dukungan berkelanjutan dari Kementerian Koperasi diharapkan dapat menjadi “rambu petunjuk” (signpost) bagi pencapaian luar biasa ketika semua pemangku kepentingan bekerja sama demi inklusi. KOMIDA menyampaikan apresiasi tertinggi atas dukungan kementerian yang memungkinkan gerakan ini menjadi standar baru dalam melayani anggota di sektor keuangan mikro

Aksesibilitas Bukan Amal, Tapi Keadilan
Direktur KOMIDA, Sugeng Priyono, dalam pidatonya menekankan bahwa setiap perempuan, tanpa memandang kondisi fisik atau tingkat pendapatannya, berhak atas kesempatan yang sama untuk sukses.
“Video panduan layanan inklusif ini adalah langkah berani kami untuk memastikan tidak ada perempuan berpenghasilan rendah, termasuk mereka yang disabilitas, yang tertinggal. Aksesibilitas bukanlah amal, melainkan keadilan,” tegas Sugeng Priyono,.
KOMIDA percaya bahwa dengan memberikan modal usaha, sarana tabungan, dan pelatihan kapasitas, pintu peluang dan martabat akan terbuka lebar bagi anggota.
Strategi Berbasis Data dan Komunitas

KOMIDA tidak hanya bicara konsep, tetapi telah mengimplementasikan langkah-langkah nyata. Alfaris Amir, Manager Social Performance Management KOMIDA, memaparkan bahwa KOMIDA telah melayani lebih dari 27.000 anggota penyandang disabilitas di 13 provinsi,.
Untuk memastikan layanan yang tepat sasaran, KOMIDA menggunakan metode Washington Group Questions guna mengidentifikasi kebutuhan spesifik anggota dengan hambatan fungsional,. Selain itu, model pertemuan kelompok (Rembug Pusat) di dekat tempat tinggal anggota sangat membantu mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas.
“Inklusi bukan tentang menciptakan sistem paralel atau produk khusus, tetapi memastikan sistem yang ada saat ini dapat bekerja untuk semua orang,” jelas Alfaris Amir saat memperkenalkan video animasi etiket disabilitas untuk staf garda depan KOMIDA,.
Dukungan Internasional: “Inclusive by Design”
Langkah KOMIDA ini mendapat apresiasi tinggi dari mitra internasional. Scott Walters, CEO Opportunity International Australia, menekankan pentingnya membangun sistem keuangan yang inklusif sejak awal perancangan (inclusive by design),.
Senada dengan itu, Fifi Rashando, JEDSI Manager OIA, menyatakan bahwa inklusi adalah keharusan ekonomi. Ia membagikan kisah sukses Ibu Roana, seorang anggota dengan disabilitas fisik yang berhasil mengembangkan bisnis nasi uduk dan peternakan ayam berkat akses pinjaman kecil, hingga mampu menyekolahkan anak-anaknya,.
Joanna O’Dea dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta juga menambahkan bahwa ketika perempuan dan penyandang disabilitas dilibatkan sepenuhnya, ekonomi akan menjadi lebih kuat dan masyarakat akan berkembang.
Menatap Masa Depan yang Inklusif

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, KOMIDA berharap dapat menjadi tolok ukur baru bagi industri mikro-finance terkhusus perkoperasian di Indonesia. Dengan perangkat JEDSI yang baru diluncurkan, lembaga keuangan kini memiliki peta jalan praktis untuk mengubah komitmen menjadi tindakan nyata, mulai dari pengumpulan data yang inklusif hingga desain tempat kerja yang aksesibel,.
Bagi KOMIDA, perjalanan ini adalah tentang mengubah isolasi menjadi inklusi, dan memastikan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk menentukan masa depan mereka sendiri dan membangun keluarga menjadi lebih baik.
“Sebagai koperasi yang inklusif, KOMIDA menghimpun semua anggota dalam wadah koperasi untuk terus tumbuh, membahagiakan keluarga.