Hubungan Kausalitas Koperasi dan Anggotanya

Koperasi terlahir karena adanya alasan kesamaan kepentingan ekonomi dan kebutuhan anggotanya. Kata koperasi berasal dari akar kata cooperation atau kerjasama. Sehingga kata kebersamaan akan menjadi esensi dalam sebuah koperai, yan tentunya berlawanan dengan kata individualitas. Kebersamaan ini mencakup segalanya, mulai dari bekerja sama, berusaha bersama, dan meraih tujuan yang sama. Solidaritas merupakan bahasa lain yang biasa digunakan untuk menyebutkan kata kebersamaan.

Syarat mutlak dari orang yang ingin berkoperasi adalah kesiapan orang itu untuk hidup dalam kerjasama. Setiap orang yang bergabung dengan koperasi, akan menjadikan kerjasama sebagai resiko dan pengorban yang harus dipikulnya. Kesiapan seseorang bergabung dengan koperasi berarti juga siap untuk menolong dirinya sendiri, bukan sebaliknya berkoperasi untuk menguntungkan pihak lain.

Koperasi itu adalah kumpulan dari orang-orang bukan kumpulan modal. Anggota merupakan sumber kekuatan koperasi, baik dalam hal jumlah angota ataupun potensi ekonomi anggota. Oleh sebab itu penentuan maju-mundurnya koperasi dipengaruhi oleh komitmen para anggotanya untuk menjalankan hak dan kewajibannya.

Kemampuan koperasi dalam meningkatkan kemampuan pelyanan dan promosi ekonomi anggota, ditentukan oleh anggotanya itu sendiri. Semua mekanisme yang dijalankan koperasi ini akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan anggota. Hubungan kausalitas merupakan hubungan khusus yang biasanya terjadi antara koperasi dan anggotanya. Hubungan ini tidak ditemukan pada badan usaha selain koperasi. Hubungan timbal balik atau kausalitas ini idealnya dimulai dari komitemen anggota terlebih dahulu, kemudian disusul pelayanan ekonomi koperasi kepada anggotanya. Alasannya karena inisiatif berkoperasi dimulai dari kepentingan ekonomi anggota, untuk menyelesaiakan permasalahan ekonomi anggota.

Memang tidaklah mudah membangun komitmen anggota. Bukti konkrit maanfaat koperasi sangatlah dibutuhkan oleh anggota dalam lingkungan bermasyarakat. Walaupun ketika aggota sudah mendapatkan manfaat ekonomi, yang terjadi pada kenyataannya anggota tidak otomatis berubah menjadi komit. Ada faktor lain yang menjadi pengaruh terhadap kualiatas komitmen anggota, yaitu faktor kultur. Faktor kultur sering dipakai sebagai pendekatan koperasi di kalangan masyarakat, terutama pedesaan. Yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap mental orang-orang untuk berkoperasi.

Leave a Reply

Apa yang bisa kami bantu?

Hubungi kami di kantor Koperasi Simpan Pinjam Mitra Dhuafa atau kirimkan pertanyaan anda secara online.

Looking for a First-Class Business Plan Consultant?