Bukan Sekadar Kamar Mandi: Cara Sugeng Priyono & KOMIDA ‘Hack’ Siklus Kemiskinan Lewat Sanitasi
- April 27, 2026
- Posted by: komida
- Category: Berita dan Artikel
JAKARTA – Bagi banyak orang, akses toilet bersih mungkin dianggap hal biasa. Namun, bagi Sugeng Priyono, Direktur Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA), sanitasi adalah bagian game changer dalam memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Dalam acara memperingati World Water Day 2026 (15/4), yang diadakan water.org dan reckitt, KOMIDA menjadi salah satu panelis pada diskusi panel yang bertajuk “Financing the Water Sector”, Sugeng membedah alasan mengapa lembaganya begitu “vokal” menggarap pinjaman air dan sanitasi sejak 2014.
Sugeng menjelaskan bahwa KOMIDA fokus pada pemberdayaan perempuan prasejahtera. Baginya, membantu mereka bukan soal membuat mereka mendadak kaya, tapi soal meningkatkan kualitas hidup secara holistik: Ekonomi, Kesehatan, dan Pendidikan.
“Profil anggota kami adalah ibu-ibu pejuang ekonomi, ada yang jualan di pasar atau buka warung di rumah. Masalahnya, productivity mereka sangat rentan terhenti kalau kesehatan terganggu,” ujar Sugeng Priyono.


Ia memaparkan sebuah pola yang kerap terjadi di lapangan: ketika sanitasi buruk, risiko penyakit meningkat. Jika ibu tersebut sakit—atau anaknya yang sakit—mereka terpaksa tutup warung. Efek dominonya fatal: pendapatan zonk, tabungan habis buat berobat, dan mereka harus start lagi dari nol.
“Seringkali anggota nunggak angsuran itu bukan karena nggak mau bayar, tapi karena kena musibah sakit. Jadi, memberikan akses toilet sehat dan air bersih itu sebenarnya adalah social investment untuk menjaga agar roda ekonomi mereka nggak macet di tengah jalan,” tambah Sugeng.

Melalui pendekatan ini, Sugeng Priyono ingin mengubah persepsi bahwa urusan sanitasi bukan cuma masalah dinkes, tapi pilar utama dalam social engineering. Dengan keluarga yang sehat, anak-anak bisa sekolah lebih tinggi dari orang tuanya, dan para ibu bisa terus produktif tanpa takut ‘boncos’ karena biaya kesehatan yang bisa dicegah.