MAMA MAGDALENA OLO MAU; LESTARI BAKAU UNTUK KESELAMATAN LAUT DAN WARISAN BAGI GENERASI

Menjelang siang, pak Hans, mengantarkan saya ke tempat kediaman Mama Magdalena,setibanya kami disana, saya melihat lebih 7 orang perempuan sudah menunggu, kami pun menyapa, dan langsung saya dikenalkan dengan Mama Lena lengkapnya Magdalena Olo Mauk.

Dengan semangat yang bergejolak juga rasa kesal yang meluap-luap, Mama Magdalena langsung menyambut kedatangan kami dengan nada yang seperti penuh kesal, menyampaikan berbagai keluhan yang ia dan teman-teman hadapi, saya tertegun dan mendengarkan dengan baik, kemana arah curhat mama Lena ini. Setelah lama berselang saya baru menyadari, ternyata ungakapan tegas yang disampaikan Mama Lena buah dari janji manis pemerintah setempat yang tak kunjung datang untuk bersama menanam tunas mangrove. Selain itu segala kebutuhan operasional pembibitan dan penanaman hanya mengandalkan uang Mama Lena dan uang komunitas.

Melestarikan bibit, merawat tunas serta menanam mangrove sudah menjadi kecintaan Mama Magdalena. Sejak 2013 ia dan kelompoknya dengan semangat terus berupaya agar kelestarian pohon mangrove semakin terjaga. Tidak dipungkiri semakin tergerusnya alam laut menjadi panggilan Mama Lena untuk berperan dan vokal menjadi aktifis lingkungan.

Dihalaman rumah yang cukup luas, tunas-tunas mangrove sudah siap ditanam, jumlahnya tidak tanggung hingga ribuan sudah. Tunas inipun Mama Lena bagikan kepada seluruh perempuan (mama lainnnya) yang tergabung dalam komunitas maupun kelompok minggon KSP Mitra Dhuafa.  Mama Lena sengaja membagikan tunas secara cuma-cuma kepada seluruh mama di daerahnya. Setiap rumah Ia berikan tunas Mangrove ratusan hingg ribuan tunas sebagai modal usaha perempuan desa.


Berkat bergabung dengan KOMIDA,
Meski Mama Lena terseok-seok dengan ekonomi dan kebutuhan sehari-hari, dengan menjadi Anggota KOMIDA, Mama Lena sangat terbantu dalam melestarikan dan merawat bibit mangrove ini. Sebagai bukti hingga saat ini Mama lena senantiasa semangat membantu masyarakat dan mengembangkan bibit mangrove.


Menanam bibit mangrove ini, tidak hanya sekedar mengubur di dalam pasir saja, perlu ajir (kayu/bambu) sebagai penyangga bibit agar kokoh ketika diterjang ombak. Dan perlu waktu lama untuk melihat mangrove ini tumbuh besar. Selain terjangan ombak, lumut laut dan hewan ternak menjadi tantangan tersendiri.Hewan ternak seperti kambing di Atambua berkeliaran begitu saja, ketika air laut surut, bibit mangrove yang baru saja bertambah tinggi dan tumbuh daun menjadi sasaran manis untuk disantap.

 Lain halnya dengan lumut, ketika lumut semakin banyak dan menyelimuti dedaunan mangrove, tumbuh kembang mangrove akan terganggu dan tidak sedikit yang gagal tumbuh.

Idealnya tunas / bibit pohon bakau ini sudah siap tanam ketika berdaun 2 helai, sedangkan yang bibit yang ada telah melebihi hingga berdaun empat.

Selama ini Mama Magdalena mengeluh dengan bibit yang sudah seharusnya ditanam,  namun masih banyak berserak di tempat pembibitan. Belum lagi kebutuhan plastik sebagai media tanam semakin habis. Semua biaya perawatan dan pembibitan hanya memaksimalkan kantong pribadi dan komunitas saja.

Selain membina perempuan kelompok, Mama Magdalena membina generasi anak-anak kampung untuk cinta lingkungan laut, dengan mengikutsertakan mereka aktif menanam mangrove setiap minggu.

Selamat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2021. Bagi Mama Lena, melestarikan alam laut, sudah mendarah daging. Setiap hela nafasnya ia curahkan demi lestarinya Laut Timor Indonesia. Kesederhanaan dan kekautan kasih menjadi pondasi utama Mama Lena. Ada prinsip dan moto hidup yang selalu ia pegang, baginya “bekerja bukan untuk dipuji, tapi untuk dihargai dan dinikmati”.

Dalam rangka hari Lingkungan Hidup Sedunia, Mama Magdalena Olo Mau laik menjadi tokoh inspirasi pecinta lingkungan yang laik menjadi salah satu sosok Perempuan yang menginsipirasi bagi seluruh perempuan dan generasi Indonesia juga Dunia.



Leave a Reply