LIMA GENERASI TERUS NGEBUL, TEMBAKAU SUWATING SEMAKIN DIKENAL

LIMA GENERASI TERUS NGEBUL, TEMBAKAU SUWATING SEMAKIN DIKENAL

Aroma Keteguhan dari Dataran Tinggi Dieng

Kisah Bu Djamilah dan Warisan Lima Generasi Tembakau Suwating

Sedari pagi kami bergegas menuju dataran tinggi dieng untuk bertemu “bakul” tembakau suwating yang sudah turun temurun. Ada yang berbeda, pagi ini tidak sedingin biasanya, cuaca di seluruh Indonesia yang panas sepertinya membawa dampak juga ke wilayah dingin tak terkecuali di Dieng – Wonosobo. Namanya Bu Djamilah, 70 tahun, petani sekaligus peracik tembakau legendaris Suwating—nama yang sudah dikenal para penikmat tembakau dari dataran tinggi Wonosobo hingga kota-kota besar di Jawa Tengah.

Bu Djamilah bukan perempuan biasa. Ia adalah generasi kelima dari keluarga yang sejak sekitar tahun 1900 telah menanam dan mengolah tembakau. Di usia senjanya, ia masih teguh mempertahankan usaha turun-temurun itu, di saat banyak anak muda memilih meninggalkan ladang dan merantau ke kota.

Soal tembakau, Bu Djamilah tentunya bukan hanya sekedar berjualan, lebih dari itu, ia menjadi estafet soal menjaga napas leluhur, dan melestarikan aroma serta hangatnya produksi tembakau untuk terus tumbuh di tengah dinginnya Dieng.

Warisan yang Bertahan di Tengah Zaman

Kisah Tembakau Suwating bermula dari masa ketika masyarakat Dieng hidup bergantung penuh pada alam. Dataran tinggi ini, di ketinggian lebih dari 2000 meter, memiliki tanah subur dan udara dingin yang khas. Di sinilah, para pioneer mulai menanam tembakau dengan cara tradisional: tanpa pupuk kimia, tanpa mesin, hanya dengan tangan, waktu, dan sabar.

Setiap generasi membawa cerita dan tantangan baru. Ketika masa penjajahan Belanda datang, tembakau menjadi komoditas bernilai tinggi. Lalu ketika revolusi dan masa kemerdekaan bergulir, usaha kecil keluarga ini tetap bertahan—menjadi simbol ketekunan di tengah perubahan besar.

Kini, di era digital, ketika dunia berlari cepat dan modernisasi mengubah wajah desa, Bu Djamilah tetap memilih berada di antara aroma daun kering dan kepulan asap halus hasil racikan warisan keluarga.

 Proses Panjang: Dari Daun Mentah Menjadi Tembakau Suwating

Pembuatan tembakau Suwating bukan perkara sederhana. Setiap tahapan dikerjakan dengan telaten penuh kesabaran seakan mengikuti hening dan sejuk suasana Dieng.

  1. Panen Daun (Metnah):
    Setelah sekitar tiga bulan masa tanam, daun tembakau dipetik satu per satu dari batang bawah ke atas. Panen dilakukan pagi hari agar daun tidak terlalu kering oleh matahari.
  2. Pengumpulan dan “Ruweki”:
    Daun-daun yang telah dipetik dikumpulkan, kemudian melalui proses “ruweki”—yakni menyusun 12 lembar daun menjadi satu ikatan. Tujuannya agar kadar air dalam daun menyebar merata dan daun menjadi lentur. Proses ini bisa berlangsung 2–3 hari tergantung cuaca.
  3. Fermentasi Alami (Gulung dan Simpan):
    Setelah lentur, daun digulung rapi dan disimpan dalam wadah bambu atau karung goni selama 5 hari hingga berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Pada tahap inilah aroma khas Suwating mulai muncul—wangi manis lembut yang menandakan fermentasi berhasil.
  • Penjemuran:
    Daun yang sudah matang fermentasinya dijemur di bawah sinar matahari Dieng yang hangat tapi tidak terik. Proses ini penting untuk menjaga warna dan kekeringan yang seimbang. Jemur terlalu cepat akan membuat daun rapuh; terlalu lama membuat aroma hilang.
  • Perajangan (Ngrajang):
    Setelah kering sempurna, daun digulung dan dirajang halus menggunakan pisau tajam. Proses ini menghasilkan potongan tembakau halus berwarna coklat keemasan yang siap dikemas.
  • Pengepakan dan Penjualan:
    Dalam sehari, Bu Djamilah mampu menghasilkan sekitar 40 kotak besar tembakau rajangan. Setiap kotak berisi hasil kerja tangan penuh cinta dan kesabaran—yang kemudian dijual ke pasar-pasar tradisional dan pelanggan tetap di berbagai kota.

Perempuan, Keteguhan, dan Koperasi

Selama puluhan tahun, Bu Djamilah menjalankan usaha ini dengan sumber daya yang telah diwariskan turun temurun hingga selanjutnya Bu Djamilah bergabung dengan KSP Mitra Dhuafa (KOMIDA), selain  mendapat pinjaman untuk pengembangan usaha, melalui pinjaman mikro dan pendampingan usaha, ia mampu menambah bahan baku, memenuhi dan memperbaharui segala penopang untuk berkembangnya usaha tembakau Suwating ini.

Bu Djamilah juga menjadi penopang spirit tentang keteguhan suara perempuan dalam merintis atau kewirausahaan. Kini kehangatan di rumah Bu Djamilah kian semarak, selain usaha tembakau yang semakin berkembang, juga ada  kehangatan spirit perempuang anggota KOMIDA yang setiap minggu berkumpul saling menguatkan untuk membangun usaha dan berbagi inspirasi dalam kebersamaan.   “Dulu saya takut berhutang. Tapi di KOMIDA, bukan cuma soal uang, kami diajarkan cara menabung, mengatur hasil panen, bahkan belajar menulis laporan kecil. Rasanya seperti punya keluarga baru,” katanya lirih.

KOMIDA, sebagai koperasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan desa, telah membuka peluang ekonomi bagi ribuan perempuan seperti Bu Djamilah di seluruh Indonesia. Mereka bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga pilar penopang ekonomi keluarga dan penjaga nilai-nilai budaya lokal.

Aroma yang Tak Pernah Padam

Kini, di usia senjanya, Bu Djamilah bukan hanya melakukan pengembangan usaha. Tidak kalah penting baginya adalah melestarikan tradisi. Ia berharap anak-cucunya terus merawat tembakau Suwating—bukan semata karena nilainya di pasar, tetapi karena ia menyimpan identitas, keringat, dan doa dari lima generasi.

 Dari perempuan seperti Bu Djamilah, kita belajar bahwa keteguhan adalah bentuk cinta paling murni pada tanah dan warisan. Dan dari keberadaan KOMIDA, kita memahami bahwa pemberdayaan sejati adalah tentang menghidupkan potensi manusia, bukan sekadar memberi modal.

Di tengah derasnya arus modernitas, Tembakau Suwating menjadi simbol bahwa tradisi dan kemajuan tidak harus bertentangan. Selama ada semangat perempuan tangguh yang mau belajar, berjuang, dan berkolaborasi, maka warisan lokal akan terus hidup berdampingan dengan zaman.

Di tanah Dieng yang dingin, tangan-tangan hangat perempuan seperti Bu Djamilah terus menyalakan api kecil keteguhan. Bersama KOMIDA, api itu tak lagi sekadar bertahan—tetapi menyala terang, menerangi banyak jalan bagi perempuan Indonesia lainnya.



Leave a Reply