Dari Dapur Kecil ke Pabrik Madu Jakarta: Kisah Sendok Kayu Ibu Siti dan Pasangan Hidup yang Saling Menguatkan
- July 16, 2025
- Posted by: komida
- Categories: Artikel, Berita dan Artikel, Inspirasi
Dusun Sanggar – Grobog, Magelang.
Kali ini kita akan menyimak kisah sederhana namun sarat makna dari seorang ibu bernama Siti Nur Hayatun. Hanya seorang ibu biasa namun memiliki jiwa tekun dan tangguh. Dari tangannya, ratusan sendok kayu lahir setiap pekan. Bukan sendok biasa, tapi hasil ketekunan dan cinta pada kerja yang dijalani hampir satu dekade terakhir.

Awalnya, Ibu Siti hanya iseng membuat kerajinan dari kayu untuk dijual ke tetangga. Sedikit demi sedikit, hasil kerajinannya menarik perhatian pengepul yang rutin mengirim ke pabrik madu di Jakarta. Sepuluh tahun ia tempuh usaha kerajinan ini, kini ia bersama sang suami bisa memproduksi sedikitnya 20 kodi sendok per hari. Ya, 400 sendok kayu tiap harinya, dibuat dengan sabar, telaten, dan tetap menjaga kualitas.
Yang menarik, sang suami dulunya bekerja serabutan. Tidak ada pekerjaan tetap, kadang membantu, kadang ikut proyek. Tapi melihat konsistensi dan hasil nyata dari usaha istrinya, ia memutuskan berhenti kerja di luar dan sepenuhnya mendukung dari rumah. Sekarang, bengkel kecil di samping rumah jadi saksi bisu kekompakan mereka sebagai pasangan produktif.
Sudah hampir empat tahun ia bergabung dengan KOMIDA, sebuah koperasi perempuan yang memberi akses keuangan mikro untuk anggota. “Tanpa pinjaman dari KOMIDA, mungkin sulit buat saya beli bahan baku dalam jumlah besar,” ujar Ibu Siti. Pinjaman itu membantunya menjaga kestabilan produksi, terutama saat permintaan sedang tinggi.
Pasangan ini memiliki dua anak perempuan. Anak pertama sedang mengikuti pendidikan agama dan kejar paket C setara SMP, sementara adiknya baru masuk kelas satu SD di sekolah negeri. Bagi Ibu Siti pendidikan anak menjadi salah satu pemicu semangat dalam berkarya hingga saat ini.

Kisah Ibu Siti adalah potret nyata bahwa kerja keras, dukungan pasangan, dan akses ke pinjaman yang tepat bisa mengubah kehidupan. Bukan soal berapa banyak yang dihasilkan, tapi tentang keberlanjutan dan semangat untuk tetap berkarya dari rumah, untuk keluarga, untuk semangat hari esok bagi kedua putrinya yang tengah bersungguh menapaki pendidikan formal dan tentunya untuk masa depan keluarga dan kebahagiaan anak di hari esok.
reported by : Karsinem_ComdevKOMIDA_Reg_I