SATU BULAN PASCAGEMPA, KOMIDA TETAP HADIR BERSAMA ANGGOTA

SATU BULAN PASCAGEMPA, KOMIDA TETAP HADIR BERSAMA ANGGOTA

2.081 Anggota Terdampak, KOMIDA Bergerak dari Masa Darurat hingga Pemulihan

Satu bulan telah berlalu sejak gempa mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun, bagi masyarakat yang terdampak, masa pemulihan belum selesai. Aktivitas perlahan mulai berjalan kembali, tetapi sebagian keluarga masih harus menata kehidupan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membangun kembali usaha yang menjadi sumber penghidupan.

Di tengah proses tersebut, KOMIDA terus hadir bersama anggota.

Di lima kantor cabang KOMIDA—Ende, Wolowaru, Nagekeo, Boawae, dan Riung—sebanyak 2.081 anggota tercatat terdampak bencana. Bagi KOMIDA, angka 2.081 bukan sekadar data. Di baliknya ada keluarga, usaha kecil, dan harapan yang harus kembali dibangun setelah bencana. Karena itu, respons KOMIDA tidak berhenti pada saat gempa terjadi. Dari masa darurat hingga masa pemulihan, KOMIDA bergerak bersama anggota.

10 TON LEBIH BERAS TELAH TERSALURKAN

Di lima cabang tersebut, KOMIDA menyalurkan bantuan bahan pokok berupa beras kepada 2.081 anggota terdampak. Bantuan ini diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus meringankan beban anggota selama masa pemulihan. Bagi mereka yang sedang berusaha bangkit, bantuan kebutuhan pokok menjadi bentuk kepedulian nyata bahwa KOMIDA tidak meninggalkan anggota ketika menghadapi kesulitan.

9 Cabang Mendapatkan Penundaan Angsuran

Selain bantuan bahan pokok bagi anggota terdampak, KOMIDA juga mengambil langkah untuk memberikan ruang yang lebih luas selama masa kedaruratan.

Seluruh anggota KOMIDA di Pulau Flores yang tersebar di 9 kantor cabang mendapatkan penundaan angsuran.

Kesembilan cabang tersebut adalah: Ende, Wolowaru, Riung, Bajawa, Nagekeo, Boawae, Aimere, Nita, dan MaumereKebijakan penundaan angsuran berlaku pada 17–28 Agustus 2026.

Dengan demikian, terdapat perbedaan yang jelas dalam cakupan respons KOMIDA: 5 cabang merupakan wilayah anggota yang terdampak dan menjadi sasaran bantuan bahan pokok, dengan total 2.081 anggota terdampak. Sementara 9 cabang merupakan cakupan wilayah penundaan angsuran bagi seluruh anggota, sebagai bentuk kebijakan kedaruratan KOMIDA di Pulau Flores.

Langkah ini memberikan ruang bagi anggota untuk memprioritaskan kebutuhan keluarga dan proses pemulihan tanpa tekanan kewajiban angsuran selama periode tersebut.

Setelah Darurat, Saatnya Kembali Bangkit

Satu bulan pasca gempa, kebutuhan anggota tidak berhenti pada bantuan darurat. Banyak anggota perlu kembali membuka usaha, memperbaiki tempat usaha, menyediakan stok barang, atau memulihkan modal yang sebelumnya terdampak.

Karena itu, KOMIDA juga memberikan kesempatan kepada anggota terdampak untuk melakukan top up pinjaman sebagai akses permodalan untuk membangun kembali dan mengembangkan usaha. Harapannya, dukungan ini dapat menjadi jembatan dari bertahan menuju bangkit.

Dari memenuhi kebutuhan hari ini, menuju kembali memiliki penghasilan.
Dari menghadapi dampak bencana, menuju kembali membangun usaha.
Dari masa sulit, menuju kehidupan yang perlahan pulih.

SIGAP BUKAN SEKADAR CEPAT

Respon KOMIDA di Flores menunjukkan bahwa makna “Sigap” bukan hanya tentang seberapa cepat bantuan diberikan.

Sigap adalah kemampuan untuk hadir sesuai kebutuhan anggota di setiap fase:

Saat darurat, KOMIDA meringankan beban. Saat membutuhkan pangan, KOMIDA hadir membawa bantuan. Saat anggota mulai bangkit, KOMIDA membuka akses permodalan untuk membangun kembali usaha.

Satu bulan setelah gempa, Flores terus melangkah. Dan KOMIDA melangkah bersama anggota. Karena pemulihan bukan hanya tentang kembali seperti sebelum bencana. Pemulihan adalah tentang kembali memiliki kekuatan untuk melanjutkan kehidupan.

Peduli dalam keadaan darurat, hadir dalam pemulihan, dan tumbuh bersama anggota.

Karena bagi KOMIDA, anggota bukan sekadar mereka yang dilayani, tetapi keluarga besar yang diperjuangkan untuk tetap bertahan, bangkit, dan tumbuh bersama.



Leave a Reply