Tidak Gelisah Lagi, Kini Ibu Wartinih Punya Sendiri

Tidak Gelisah Lagi, Kini Ibu Wartinih Punya Sendiri

Category:

Senin, pengingat bahwa akhir pekan telah berakhir, Pak Rifki seorang staff lapang dari Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA) harus kembali bekerja. Dengan mengendarai sepeda motor Pak Rifki pun bergegas menuju salah satu center 064 di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.

Dalam setiap kumpulan center Pak Rifki tidak hanya sekedar mengumpulkan angsuran saja, namun dia juga selalu mengamati keadaan sekitar di desa tersebut baik secara ekonomi, sosial, maupun hal lainnya. Dan betul saja, desa Krimun ini hampir semua penduduknya belum memiliki kamar mandi dirumahnya. Kegiatan mandi, mencuci, buang air besar dan kecil pun mereka harus mengandalkan sumur bersama dan mengantri setiap harinya, menyingkirkan rasa malu dengan keadaan yang ada, serta jarak tempuh yang jauh dari pemukiman penduduk.

Termotivasi dari keadaan tersebut, Pak Rifki sangat bersemangat untuk memberikan informasi mengenai produk pembiayaan air dan sanitasi dari KOMIDA kepada anggotanya di center wilayah tersebut. Dia meyakini bahwa ini akan menjadi solusi untuk permasalahan anggota dalam penyediaan fasilitas air bersih di rumahnya, sehingga tidak perlu lagi malu, mengantri dan berjalan jauh lagi setiap hari di sumur bersama tersebut.

Ibu Wartinih, beliau adalah salah satu anggota dari center 064. Memiliki kamar mandi di rumah sendiri merupakan impian yang semua orang inginkan, termasuk Ibu Wartinih. Beliau adalah seorang pedagang gorengan keliling dan suaminya seorang peternak ikan lele di wilayah tersebut. Dengan penghasilan mereka yang hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sekolah anak-anaknya, Ibu Wartinih dan suami belum mampu mengumpulkan uang untuk membuat kamar mandi di rumahnya.

Tinggal dalam satu atap bersama suami dan 3 anaknya , membuat beliau selalu gelisah karena tidak memiliki kamar mandi di rumahnya, apalagi salah satu putrinya kini berinjak remaja, ketika putrinya ingin melakukan aktivitas di kamar kecil, putrinya harus pergi ke sumur bersama dan melawan rasa malu, dia juga harus bangun lebih pagi untuk
mandi sebelum jam 05.30 demi terhindar dari antrian, karena jarak dari rumah ke sekolahnya cukup jauh sehingga tidak terlambat. Belum lagi ketika anak bungsunya ingin buang air besar tengah malam beliau pun harus pergi ke sumur bersama yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Dan setiap hari pula beliau dan suami setiap selesai mandi dari sumur bersama itu, mereka selalu membawa air dalam ember untuk keperluan masak dan minum yang dampaknya setiap hari ibu Wartinih sering mengeluhkan sakit pinggang di badannya.

Kelelahan Ibu Wartinih dalam penyediaan air bersih di rumahnya tidak menjadi masalah bagi dirinya, yang menjadi masalah adalah kegelisahan beliau ketika melihat anakanaknya melakukan aktivitas di kamar mandi harus pergi keluar dan berjalan kaki. Ibu Wartinih merupakan ibu yang sangat peduli kepada keluarganya, Ibu Wartinih juga adalah sosok ibu yang tidak sanggup melihat anak-anaknya kesusahan seperti beliau, begitu banyak kegelisahan beliau karena tidak memiliki kamar mandi sendiri membuat beliau dan suami selalu bersemangat mengumpulkan uang untuk membangun kamar mandi sendiri dirumahnya, namun apa daya? biaya sekolah putrinya ditingkat SMK yang cukup mahal membuat Ibu Wartinih dan suami ketika memiliki uang harus dibayarkan di ke sekolah.

Ibu Wartinih dan suaminya bukan tipe orang tua yang banyak mengeluh, mereka sering bekerja keras untuk kesejahteraan keluarganya. Hingga tiba disuatu masa ketika beliau kumpulan di center KOMIDA, dalam perkumpulan kali ini ada yang berbeda bahwasannya Pak Rifki staff lapang KOMIDA menjelaskan informasi mengenai produk Air dan Sanitasi KOMIDA.

Ibu Wartinih terlihat sangat tertarik dan mencoba memahami informasi mengenai adanya produk Air dan Sanitasi tersebut, baginya ini adalah sebuah jalan yang Tuhan berikan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, karena kebetulan beliau dan suami saat ini sangat membutuhkan kamar mandi di rumahnya. Sepulang dari perkumpulan beliau tak sabar menunggu suami pulang kerja di rumah. Tibalah sang suami, secangkir kopi beliau suguhkan, kemudian segera memberitahukan bahwa beliau ingin sekali mengambil produk pembiayaan Air dan Sanitasi di KOMIDA untuk membuat kamar mandi rumahnya. Dan tanpa banyak bertanya sang suami pun mengizinkan keinginan istrinya, hingga akhirnya Ibu Wartinih mengajukan pengajuan produk pembiayaan Air dan Sanitasi untuk membuat kamar mandi dirumahnya.

Pak Rifki, staff lapang KOMIDA melihat kebahagiaan dari Ibu Wartinih terkait pembiayaan Air dan Sanitasi KOMIDA, bahwasannya beliau telah tinggal bertahun-tahun di rumahnya tanpa kamar mandi, Pak Rifki juga merasakan kegelisahan yang beliau rasakan tanpa kamar mandi, belum lagi usia beliau yang sudah tidak muda lagi dan Pak Rifki juga membayangkan bagaimana pula kesehatan dari beliau apabila terus-terusan berjalan jauh membawa air banyak dalam ember ke rumahnya sendiri. Pak Rifki memiliki pandangan ketika anggotanya memiliki kamar mandi sendiri manfaat bagi kesehatannya pun meningkat dan apabila anggotanya sehat maka usaha anggota pun lancar.

Ibu Wartinih pun mengakui bahwa beliau senang sekali mendapatkan pembiayaan Air dan Sanitasi dari KOMIDA dan kini beliau mempunyai kamar mandi sendiri, beliau juga menjelaskan bahwa sekarang anak-anaknya tidak perlu gelisah lagi, akan malu dan antrian di sumur bersama dan beliau sekarang bahagia bisa menjalankan usaha lebih efisien tanpa harus membawa air dalam ember setiap hari.

(Siti Nurmuki/Cabang Patrol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *