INSPIRASI SANITASI DARI DESA PRAWOTO

INSPIRASI SANITASI DARI DESA PRAWOTO

Category:

Prawoto, desa yang terletak di kecamatan Sukolilo kabupaten Pati, Jawa Tengah sekitar 30 kilometer dari jantung kota Pati. Desa ini dikenal dengan sebutan istana wali karena dahulu termasuk salah satu tempat tinggal para wali dan tempat dimakamkannya waliyullah Sunan Prawoto.

Di desa ini terdapat beberapa sumber mata air peninggalan para wali yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan air bersih konsumsi, MCK, maupun tempat wisata. Untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga air bersih dialirkan melalui selang-selang ke setiap rumah warga dan dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Masih banyak juga warga yang melakukan aktivitas mandi dan mencuci di sumber air (sendang) yang terdapat hampir di setiap dusun. Air yang jernih serta sungainya yang berkelok-kelok dari dusun ke dusun menjadi salah satu faktor masyarakat menjadikan sungai sebagai kakus. Bahkan ada pula warga yang membangun jamban tanpa septictank yang pembuangan tinjanya langsung ke sungai.

KOMIDA mulai melayani masyarakat di Prawoto sejak bulan September 2016. Melihat kondisi lapang yang demikian KOMIDA gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat khususnya anggota tentang pentingnya kesehatan bagi keluarga. Hingga saat ini ada sekitar 157 orang anggota yang menjadi fokus pendampingan telah menerima pembiayaan dari KOMIDA.

Salah satunya Ibu Anis Zulianti (26), ibu muda asal Prawoto ini menjadi anggota KOMIDA sejak 24 Oktober 2016. Dari pembiayaan awal Rp 900.000,- hingga kini menerima pembiayaan sebesar Rp 3.000.000,- yang digunakan untuk menambah modal usaha jual makanan bersama ibu kandungnya ibu Siti Asmiah di pasar Prawoto, pasar tradisional yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Bu Anis memulai persiapan dagangannya sejak dini hari sebelum subuh. Setelah semuanya siap kemudian membawanya ke pasar karena pelanggannya telah menunggu untuk sarapan.

Rumah ibu Anis sangat dekat dengan sungai, yang biasanya digunakan sebagai kakus. Tentu kebiasaan ini tidak baik jika terus dilakukan baik secara kesehatan maupun estetika. Kesadaran akan pentingnya kesehatan dan sarana sanitasi sehat inilah yang membuat ibu Anis tergerak hatinya untuk memiliki jamban sendiri di rumah yang terhubung ke septictank. Dengan pembiayaan sanitasi sebesar Rp 5.000.000,- dari KOMIDA dan dibangun sendiri oleh suaminya yang biasa bekerja sebagai buruh bangunan, dalam waktu 7 hari ibu Anis dan keluarga kini telah memiliki kamar mandi dengan closet dan septictank serta dapat merasakan manfaatnya. Saat musim hujan tidak khawatir karena tak perlu lagi repot buang air besar di sungai. Untuk memandikan anak atau mencuci pakaian tak perlu lagi repot pergi ke sendang karena kini semuanya sisa dilakukan di rumah. Pekerjaan rumah tangga pun bisa diselesaikan lebih cepat dari sebelumnya. Beliau pun memiliki waktu lebih untuk mempersiapkan dagangannya sebelum berangkat ke pasar.

Ibu Anis merasakan dengan hadirnya KOMIDA di desa Prawoto sangat bermanfaat, tak hanya dapat meningkatkan permodalan untuk usaha tatapi juga kesehatan keluarga. Kesempatan untuk pembiayaan pendidikan pun masih terbuka untuk anaknya yang kini masih di bermain di taman kanak-kanak.
Setelah merasakan manfaat tersebut ibu Anis turut mengajak tetangga sekitar untuk peduli dengan kesehatan keluarga salah satunya dengan tidak lagi buang air besar di sungai. Semoga kedepannya bisa membantu lebih banyak keluarga untuk peduli dengan kesehatan keluarga seperti ibu Anis. Memang tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah sejak lama, tapi perubahan bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

(Tri Utami Setyaningrum/Cabang Penawangan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *